Laman

Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 01 Juli 2013

metode oparasi pria (MOP) / vasektomi

2.1         Pengertian metode oparasi pria (MOP)
Metode operasi pada pria disebut juga dengan kata lain yaitu sterillisasi tetapi  vasektomi. Vasektomi merupakan suatu operasi kecil dan dapat dilakukan oleh seseorang yang telah mendapat latihan khusus untuk itu.
Tiga faktor yang tampaknya penting dalam pemulihan kesuburan setelah vasektomi adalah:
1.        Penggunaan teknik bedah mikro yang cermat untuk reanastomosis.
2.        Interval waktu setelah vasektomi.
3.        Adanya granuloma sperma.

2.2         Profil
·         Sangat efektif dan permanen.
·         Tidak ada efek samping jangka panjang.
·         Tindak bedah yang aman dan sederhana.
·         Efektif setelah 20 ejakulasi atau 3 bulan.
·         Konseling dan informed consent mutlak diperlukan.

2.3         Batasan
Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasadeferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi.

2.4         Mekanisme Kerja
Bekas operasi hanya berupa satu luka di tengah atau luka kecil di kanan kiri scrotum. Vasektomi berguna untuk menghalangi transport spermatozoa (sel mani) di pipa-pipa sel mani pria (saluran mani pria).
2.5         Syarat-syarat menjadi akseptor
·      Harus secara sukarela.
·      Mendapat persetujuan istri.
·      Jumlah anak cukup.
·      Mengetahui akibat-akibat vasektomi.
·      Umur calon tidak kurang dari 30 tahun
·      Umur istri tidak kurang dari 20 tahun dan tidak lebih dari 45 tahun
·      Pasangan suami-istri telah mempunyai anak minimal dua orang, dan anak paling kecil harus sudah berumur diatas dua tahun.

2.6         Indikasi
Pada dasarnya indikasi untuk melakukan vasektomi ialah bahwa pasangan suam istri tidak mengehendaki kehamilan lagi dan pihak suami bersedia bahwa tindakan kontrasepsi dilakukan pada dirinya.

Kondisi yang memerlukan perhatian khusus Bagi tindakan vasektomi
·      Infeksi kulit pada daerak operasi.
·      Infeksi sistemik yang sangat mengganggu kondisi kesehatan klien.
·      Hidrokel atau varikokel yang besar.
·      Hernia inguinalis.
·      Filariasis (elephantiasis).
·      Undesensus testikularis.
·      Massa intraskrotalis.
·      Anemia berat, gangguan pembekuan darah atau sedang menggunakan antikoagulansia.

2.7         Kontraindikasi
Sebetulnya tidak ada kontraindikasi pada vasektomi, hanya apabila ada kelainan lokal atau umum yang dapat mengganggu sembuhnya luka operasi, kelainan itu harus disembuhkan seperti dahulu misalnya:
·      Apabila ada peradangan kulit disekitar scrotum harus disembuhkan dulu.
·      Apabila menderita hernia.
·      Apabila menderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol.
·      Apabila menderita kelainan mekanisme pembekuan darah.
·      Apabila keadaan kejiawaan tidak stabil.
2.8         Keuntungan dan kerugian
Keuntungan:
1.        Tidak menimbulkan kelainan fisik maupun mental
2.        Tidak mengganggu libido seksualitas
3.        Dapat dikerjakan secara poliklinis
4.        Tidak ada mortalitas (kematian)
5.        Morbiditas (akibat sakit) kecil sekali.
6.        Pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit.
7.        Dilakukan anaestesi lokal.
8.        Ada kepastian bahwa cara ini efektip (kemungkinan gagal tidak ada) karena dapat dichek kepastian di Laboratorium.
9.        Tidak mengganggu hubungan sex selanjutnya dan juga jumlah cairan yang dikeluarkan oleh suami waktu bersanggama tidak berubah.
10.    Tidak banyak memerlukan biaya. Yang penting adalah persetujuan dari istri.

Kerugian:
Kekurangann vasektomi adalah sterilisasinya tidak bersifat segera.  Eksfulsi total sperma yang tersimpan disaluran refroduktif setelah bagian vasdeferens diputus memerlukan waktu 3 bulan atau 20 kali ejakulasi (American College of Obtetricians and Gynecologists, 1996). Semen harus diperiksa sampai tidak mengandung sperma pada dua pemeriksaan berturut-turut. Selama masa ini, harus digunakan metode kontrasepsi lain.
 Angka kegagalan vasektomi jauh di bawah 1 persen, tetapi angka ini tergantung dari beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah kegagalan akibat hubungan kelamin tanpa proteksi yang terlalu awal setelah ligasi, kegagalan penyumbatan vas deferens, atau rekanalisasi. Hendrix dkk. (1999) melaporkan bahwa kemungkinan kegagalan pada dterilisasi tuba 10-37 kali dibandingkan dengan vasektomi.

2.9         Konseling Informasi dan persetujuan tindakan medis
·      Klien harus diberi informasi bahwa prosedur vasektomi tidak mengganggu hormone pria atau menyebabkan perubahan kemampuan atau kepuasan seksual.
·      Setelah prosedur vasektomi, gunakan salah satu kontrasepsi terpilih hingga spermatozoa yang tersisa dalam vesikula seminalis telah dikeluarkan seluruhnya. Secara empiric, sperma-analisis akan menunjukkan hasil negatif setelah 15-20 kali ejakulasi.

2.10          Penilaian Klinik
Riwayat sosiomedik yang perlu diketahui dari seorang calon akseptor vasektomi meliputi hal-hal berikut :
·         Riwayat operasi atau trauma pada region skrotalis atau inguinalis.
·         Riwayat disfungsi seksual, termasuk impotensi.
·         Kondisi area skrotalis (ketebalan kulit, parut atau infeksi).
·         Temuan berupa undesensus testikularis, hidrokel/varikokel, massa intraskrotalis atau hernia inguinalis.
·         Riwayat alergi.
·         Adanya proteinuria atau diabetes mellitus.

2.11          Pelaksanaan pelayanan
Tempat pelayanan vasektomi
Vasektomi dapat dilakukan di fasilitas kesehatan umum yang mempunyai ruang tindakan untuk bedah minor. Ruang yang dipilih sebaiknya tidak di bagian yang sibuk/banyak orang yang lalu lalang. Ruangan tersebut sebaiknya :
·         Mendapat penerangan yang cukup.
·         Lantainya terbuat dari semen atau keramik agar mudah dibersihkan, bebas debu dan serangga.
·         Sedapat mungkin dilengkapi dengan alat pengatur suhu ruangan/air condition. Bila tidak memungkinkan, ventilasi ruangan harus sebaik mungkin dan apabila jendela dibuka, tirai harus terpasang baik dan kuat.
Untuk mencuci tangan sebaiknya disediakan air bersih yang mengalir dan jumlahnnya cukup. Tangki air harus bersih, dekat dengan tempat mencuci tangan, dan tertutup baik sedangkan tempat pembuangan limbah harus rapat dan bebas dari kebocoran.

2.12          Beberapa pertimbangan sebelum memutuskan untuk operasi
            Pemilihan klien dilakukan berdasarkan :
·         Pemeriksaan praoperatif
  Anamnesis yang lengkap, termasuk laporan operasi daerah pelvis dan penyakit panggul terdahulu.
  Pemeriksaan fisik umum (status generalis).
  Pemeriksaan ginekologis.
  Pemeriksaan laparoskopi, dan/atau
  Pemeriksaan histerosalpingografi.
·         Keputusan untuk operasi dan waktunya
     Apakah bisa dilakukan pembedahan mikro pada kasus tersebut.
     Apakah tindakan pembedahan tersebut akan memberikan hasil yang baik untuk  klien agar dapat hamil.
        Bila jawaban Ya, harus ditentukan waktu operasi. Tindakan pembedahan biasanya dilakukan di rumah sakit oleh ahli bedah yang terlatih serta dengan sarana yang lengkap untuk operasi mikro (micro surgery).
2.13          Teknik vasektomi
Mula-mula kulit skrotum di daerah operasi di sucihamakan. Kemudian, dilakukan anestesi lokal dengan larutan xilokain. Anestesi dilakukan di kulit skrotum dan jaringan sekitarnya di bagian atas, dan pada jaringan di sekitar vas deferens. Vas dicari dan setelah ditentukan lokasinya, dipegang sedekat mungkin di baeah kulit skrotum. Setelah itu, lakukan sayatan pada kulit skrotum sepanjang 0,5 sampai 1 cm di dekat tempat vas deferens. Setelh vas kelihatan, di jepit dan dikeluarkan dari sayatan (harus diyakinkan betul, bahwa memang vas yang dilekuarkan itu), vas dipotong sepanjang 1 -2 cm dan keduan ujungnya di ikat. Setelah kulit dijahit, tindakan di ulangi pada sebelah yang lain.
Seorang yang telah mengalami vasektomi baru dapat dikatakan betul-betul steril jika dia telah mengalami 8-12 ejakulasi setelah vasektomi. Oleh karena itu, sebelum hal tersebut tercapai, yang bersangkutan dianjurkan pada koitus dianjurkan memakai cara kontrasepsi lain.

2.13     Komplikasi
·      Komplikasi dapat terjadi saat prosedur berlangsung atau beberapa saat setelah tindakan. Komplikasi selama prosedur dapat berupa komplikasi akibat reaksi anafilaksis yang disebabkan oleh lidokain atau manipulasi berlebihan terhadap anyaman pembuluh darah di sekitar vasadeferensia.
·      Komplikasi pascatindakan dapat berupa hematoma skrotalis, infeksi atau abses pada testeis, atrofi testis, epididimitis kongestif. Atau peradangan kronik granuloma di tempat insisi. Penyulit jangka panjang yang dapat mengganggu upaya pemulihan fungsi reproduksi adalah terjadinya anntibodi sperma.
·      Infeksi pada sayatan
·      Rasa nyeri atau sakit
·      Terjadinya hematom oleh karena perdarahan kapiler
·      Epididimis
·      Terbentuknya granuloma

2.14     Nasihat yang diberikan pada klien setelah tindakan :

·           Istirahat selama 1 s/d 2 hari.
·           menjaga luka bekas operasi jangan basah dan kotor.
·           memakan obat sesuai dengan petunjuk.
·           datang kembali ke klinik 1 minggu kemudian untuk pemeriksaan.
·           tidak boleh bercampur dengan istri tanpa menggunakan alat kontrasepsi, seperti misalnya kondom, paling tidak 15 kali sanggama atau dalam waktu 3 bulan setelah operasi.
·           Pertahankan band aid selama 3 hari.
·           Luka yang sedang dalam penyembuhan jangan ditarik-tarik atau digaruk.
·           Boleh mandi setelah 24 jam, asal daerah luka tidak basah. Setelah 3 hari luka boleh dicuci dengan sabun dan air.
·           Pakailah penunjang skrotum, usahakan daerah operasi kering.
·           Jika ada nyeri, berikan 1-2 tablet analgesic seperti parasetamol atau iburprofen setiap 4-5 jam.
·           Hindari mengangkat barang berat dan kerja keras untuk 3 hari.
·           Boleh bersenggama sesudah hari ke 2-3. Namun, untuk mencegah kehamilan pakailah kondom atau cara kontrasepsi lain selam 3 bulan atau sampai ejakulasi 15-20 kali.
·           Periksa semen 3 bulan pascavasektomi atau sesudah 15-20 kali ejakulasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar