Laman

Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 10 Juni 2013

konsep dasar pada asuhan kebidanan nifas normal

Pengertian masa nifas
Ada beberapa pengertian masa nifas antara lain :
1.      Masa nifas di mulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu berikiutnya. (JHPEIGO, 2002).
2.      Masa nifas tidak kurang dari 10 hari dan tidak lebih dari 8 hari setelah akhir persalinan, dengan pemantauan bidan sesuai kebutuhan ibu dan bayi (Bennet dan Brown, 1999)
Dalam bahasa latin, waktu tertentu setelah melahirkan anak ini di sebut pureperium, yaitu dari kata puer yang artinya bayi dan parous melahirkan. Puerperium berati masa setelah melahirkan bayi.
Masa nifas (pueperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai hingga alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas ini, yaitu 6 sampai 8 minggu.
Nifas dibagi dalam 3 periode :
1.    Pueperium dini, yaitu kepulihan ketika ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan.
2.    Puerperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital
3.    Remote puerperium, yaitu waktu yang di perlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sepmurna mungkin beberapa minggu, bulan, atau tahun.

2.2 Tujuan asuhan masa nifas
Semua kegiatan yang dilakukan, baik dalam bidang kebidanan maupun di bidang lain selalu mempunyai tujuan agar kegiatan tersebut terarah dan diadakan evaluasi dan penilaian. Tujuan dari perawatan nifas ini adalah :
1.    Memulihkan kesehatan penderita
a.       Menyediakan makanan sesuai kebutuhan.
b.      Mengatasi anemia.
c.       Mencegah infeksi dengan memerhatikan kebersihan dan sterilisasi
d.      Mengembalikan kesehatan umum dengan pergerakan otot untuk memperlancar peredaran darah
2.      Mempertahankan kesehatan psikologis.
3.      Mencegah infeksi dan komplikasi
4.      Memperlancar pembentukan air susu ibu (ASI)
5.      Mengajarkan ibu untuk melaksanakan perawatan mandiri sampai masa nifas selesai dan memelihara bayi dengan baik, sehingga bayi dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan normal.
2.3 Peran dan tanggung jawab bidan
Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas adalah memberi perawatan dan dukungan sesuai kebutuhan ibu, yaitu melalui kemitraan ( partnership) dengan ibu. Selain itu, dengan cara :
1.      Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu nifas.
2.      Menentukan diagnosis dan kebutuhan asuhan kebidanan pada massa nifas
3.      Menyusun rencana asuhan kebidanan berdasarkan prioritas masalah.
4.      Melaksanakan asuhan kebidanan sesuia dengan rencana
5.      Mengevaluasi bersama klien asuhan kebidanan yang telah diberikan
6.      Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien

2.4    Kebijakan program Nasional masa nifas
Paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah yang terjadi. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada tabel.
Tahapan Masa Nifas
Kunjungan
Waktu
Tujuan
I
6-8 jam setelah persalinan
1.      Mencegah perdarahan masa nifas akibat atonia uteri
2.      Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan rujuk jika perdarahan berlanjut
3.      Memberi konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai cara mencegah perdarahan masa nifas akibat atonia uteri
4.      Pemberian ASI awal
5.      Melakukan hubungan antar ibu dan bayi baru lahir
6.      Menjaga bayi tetap sehat dengan mencegah hipotermi
7.      Petugas kesehatan yang menolong persalinan harus mendampingi ibu dan bayi lahir selama 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil.
II
6 hari setelah persalinan
1.      Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
2.      Menilai adanya demam
3.      Memastikan agar ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
4.      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda penyulit
5.      Memberi konseling pada ibu tentang asuhan pada bayi, perawatan tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan perawatan bayi sehari-hari.
III
2 minggu setelah persalinan
Sama seperti di atas ( 6 hari setelah persalinan)
IV
6 minggu setelah persalinan
1.      Mengkaji tentang kemungkinan penyulit pada ibu
2.      Memberi konseling keluarga berencana (KB) secara dini.

2.5 Perubahan pada Uterus
Involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gr. Involusi uterus meliputi reorganisasi dan pengeluaran desidua/endometrium dan eksfoliasi tempat perlekatan plasenta yang ditandai dengan penurunan ukuran dan berat serta perubahan lokasi uterus juga ditandai dengan warna dan jumlah lokia. Pada proses involusi uterus terjadi hal-hal sebagai berikut :
Autolysis
¨  Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterus. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula dan lima kali lebih lebar dari semula selama kehamilan.
¨  Terdapat polymorph phagolitik dan macrophages di dalam sistem vaskuler dan sistem limfatik.
¨  Efek oksitosin
Penyebab kontraksi dan retraksi otot uterus sehingga akan mengkompres pembuluh darah yang menyebabkan akan mengurangi tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan.


Bobot Uterus
Diameter Uterus
Palpasi Serviks
Pada akhir persalinan
900 gr
12,5 cm
Lembut/lunak
Pada akhir minggu ke 1
450 gr
7,5 cm
2 cm
Pada akhir minggu ke 2
200 gr
5 cm
1 cm
Pada akhir minggu ke 6
60 gr
2,5 cm
Menyempit

Penurunan ukuran uterus yang cepat direfleksikan dengan perubahan lokasi uterus, yaitu uterus turun dari abdomen dan kembali menjadi organ panggul. Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri (TFU) terletak sekitar dua pertiga hingga tiga per empat bagian atas antara simfisis pubis dan umbilikus. Letak TFU kemudian naik, sejajar dengan umbilikus dalam beberapa jam.
TFU tetap sejajar dengan umbilikus selama satu atau dua hari dan secara bertahap turun ke dalam panggul sehingga tidak dapat dipalpasi lagi di atas simfisis pubis setelah hari kesepuluh pascapartum.
2.6 Perubahan pada Lokia
Lokia adalah sekresi cairan uterus selama masa nifas. Lokia mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lokia mempunyai bau amis dan volumenya berbeda-beda. Lokia mengalami perubahan seeiring dengan proses involusi.
1.    Lokia rubra
Lokia rubra berwarna merah, muncul pada hari pertama sampai ke empat hari post partum. Mengandung darah dari robekan/luka pada plasenta dan serabut dari desidua dan korion.
2.    Lokia serosa
Lokia serosa berwarna kecoklatan, muncul pada hari kelima sampai sembilan hari berikutnya. Mengandung lebih sedikit darah dan lebih banyak serum,lekosit dan robekan dari plasenta.
3.      Lokia alba
Lokia alba berwarna lebih pucat, putih kekuningan. Mengandung lekosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.
2.7 Perubahan pada Perineum, Vagina dan Vulva
Segera setelah kelahiran, vagina tetap terbuka lebar, dapat mengalami beberapa derajat edema dan memar. Setelah satu hingga dua hari pertama postpartum, tonus otot vagina kembali, celah vagina tidak lebar dan vagina tidak lagi edema. Vagina menjadi berdinding lunak, lebih besar dari biasanya dan umumnya longgar. Ukurannya menurun dengan kembalinya rugae vagina sekitar tiga minggu ketiga post partum.
Berkurangnya sirkulasi progesteron mempengaruhi otot-otot panggul, perineum, vagina dan vulva. Proses ini membantu pemulihan ke arah tonisitas/elastisitas normal dari ligamentum otot rahim.
Proses tersebut diatas akan berguna bila ibu melakukan ambulasi dini, senam nifas dan dapat mencegah konstipasi.
2.8 Ovarium dan tuba falopi
Setelah kelahiran plasenta, produksi estrogen dan progresteron menurun sehingga menimbulkan mekanisme timbal balik dari sirkulasi menstruasi. pada saat inilah dimulai kembali proses ovulasi, sehingga wanita dapat hamil kembali.

2.9 Perubahan pada Sistem Pencernaan
Ibu mungkin merasa kelaparan dan mulai makan satu atau dua jam setelah melahirkan. Kecuali bila ada komplikasi pada persalinan, tidak ada alasan untuk menunda pemberian makan pada ibu post partum yang sehat. Kerapkali diperlukan waktu 3-4 hari sebelum faal usus kembali normal. Kadar progesteron menurun setelah melahirkan,  asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari, demikian pula rasa sakit di daerah perineum dapat menghalangi keinginan ke toilet.
Konstipasi mungkin menjadi masalah pada puerpurium awal karena kurangnya makanan padat selama persalinan dan karena ibu menahan defekasi.
2.10 Perubahan Sistem Perkemihan
Setelah melahirkan kandung kemih mengalami kongesti dan hipotonik yang dapat menyebabkan overdistensi, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap. Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Uretra jarang mengalami obstruksi, tetapi tidak dapat dihindari akibat kompresi antara kepala janin dan tulang pubis.
Urin dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam setelah melahirkan. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan ini menyebabkan diuresis. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.
2.11 Perubahan Sistem Endokrin
Kadar estrogen menurun 10% dalam waktu sekitar 3 jam post partum. Progesteron menurun pada hari ke 3 post partum. Kadar prolaktin dalam darah berangsur-angsur hilang.


2.12 Perubahan Tanda-tanda Vital
¨      Tekanan Darah
Segera setelah melahirkan, banyak ibu mengalami peeningkatan sementara tekanan darah sistolik dan diastolik, yang akan kembali secara spontan ke tekanan darah sebelum hamil selama beberapa hari.
¨      Suhu
Suhu ibu kembali normal dari suhu yang meningkat selama periode intrapartum dan stabil dalam 24 jam pertama post partum.
¨      Nadi
Nadi meningkat selama persalinan akhir, kembali normal setelah beberapa jam pertama post partum. Perdarahan post partum, demam selama persalinan dan nyeri akut dapat mempengaruhi proses ini. Bila denyut nadi di atas 100 selama nifas, hal tersebut abnormal dan kemungkinan menunjukkan adanya infeksi atau perdarahan post partum lambat.
¨      Pernapasan
Fungsi pernapasan  kembali pada rentang normal wanita selama jam pertama post partum. Napas pendek, cepat atau bila ada perubahan lain memerlukan evaluasi adanya kondisi-kondisi seperti kelebihan cairan, eksaserbasi asma dan embolus paru.
2.13     Perubahan Kardiovaskuler
Setelah terjadi diuresis akibat penurunan kadar estrogen, volume darah kembali kepada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah merah dan hemoglobin kembali normal pada hari ke-5. Plasma darah tidak begitu mengandung cairan dan dengan demikian daya koagulasi meningkat.
2.14  Perubahan Hematologi
Leukositosis dengan peningkatan sel darah putih hingga 15.000 atau lebih selama persalinan, dilanjutkan dengan peningkatan sel darah putih selama dua hari pertama post partum. Jumlah sel darah putih dapat meningkat hingga 25.000 atau 30.000 tanpa mengalami patologis pada kasus persalinan lama. Dugaan infeksi harus dipastikan jika peningkatan sel darah putih signifikan.
Hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit sangat bervariasi dalam masa nifas awal sebagai akibat fluktuasi volume darah, volume plasma dan kadar volume sel darah merah. Kadar ini dipengaruhi oleh status hidrasi ibu, volume cairan yang ia dapat selama persalinan dan reduksi volume darah total normal ibu dari peningkatan kadar volume darah selama kehamilan. Faktor ini menyebabkan hematokrit kurang efektif sebagai ukuran kehilangan darah selama 2-4 hari post partum.

Jika nilai hematokrit pada hari pertama atau kedua post partum lebih rendah 2% atau lebih dari nilai hematokrit yang diukur pada saat memasuki persalinan, terjadi kehilangan darah yang signifikan. Nilai 2% setara dengan 1 unit (500 ml) kehilangan darah. Terdapat reduksi sekitar 1500 ml dalam volume darah total selama persalinan dan nifas. Tidak semua dari reduksi tersebut berupa kehilangan darah, juga dapat disebabkan beban cairan yang terakumulasi pada kehamilan hilang melalui diuresis, peningkatan perspirasi dan kembalinya fungsi sistem renalis ke keadaan normal saat tidak hamil. Total sekitar 200-500 ml darah hilang selama persalinan, 500-800 ml selama minggu pertama post partum dan 500 ml selama masa nifas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar